Salah satu fenomena ilmu pengetahuan di abad 20 adalah kemunculan paradigma baru di bidang
Operations Management yang dipicu oleh
Japanese Management Pratices. Fenomena ini menandai kemunculan istilah
Just In Time yang justru diberikan oleh para ilmuwan barat.
Istilah
Just In Time sulit ditelusuri dari mana
asalnya, namun ada dua peristiwa yang bisa menjadi penanda atas
kemunculan fenomena tersebut. Pertama adalah kisah Taiichi Ohno yang ke
Amerika pada 1950 untuk belajar ke General Motor namun justru mendapat
inspirasi dari pasar swalayan disana untuk diterapkan di Toyota , dan
ke dua adalah kasus industri galangan kapal di Jepang setelah perang
dunia ke dua yang kekurangan permintaan atau
over supply.
Ke dua fenomena tersebut menandai perubahan cara pikir dan cara padang mereka dalam praktek manajemen. Bahkan
Productions and O
perations Management Conference 1996 di Indianapolis perlu mengangkat tema
The New Paradigm in Operations Management and The New Paradigm in Teaching Operations Management untuk menanggapi fenomena perubahan tersebut.
Inti dari
Japanese Management Practices yang berkembang sejak kedua fenomena tersebut adalah perubahan dari
Push System yang sebelumnya diterima sebagai sebuah kebenaran dalam
manufacturing management ke
Pull System. Dengan kata lain
Pull System adalah anti tesa terhadap
Push System. Gugatan
Pull System ini kemudian menimbulkan dampak berantai terhadap setiap
problem solving and decision making process yang bertumpu pada pengeliminasian
Muda atau
Waste yaitu
segala sesuatu yang tidak mempunyai nilai tambah.
Cara pikir dan cara pandang yang baru ini sungguh revolusioner dalam
melihat bagaimana produktivitas sebuah sistem harus ditingkatkan.
Produktivitas adalah perbandingan antara output dengan input. Semakin
besar output, given input, maka akan semakin besar produktivitasnya.
Dalam sebuah sistem, perbedaan nilai output dari input disebabkan oleh
penciptaan nilai dalam proses. Dengan kata lain, penciptaan nilai dalam
proses membuat input bernilai tambah di output. Bila input 1000 dan
output 1500 maka penciptaan nilai tambah dalam proses adalah 500.
Masalahnya, didalam proses secara bersamaan diciptakan sekaligus Added
Value dan Non Added Value. Cara pandang yang baru ini lebih menitik
beratkan ke hasil, sehingga untuk meningkatkan Produktivitas, bukan
Added Value yang ditiungkatkan, tetapi Non Added Value yang dieliminasi.
Download file
added_value . Silahkan memainkan simulasi file ini untuk mengetahui bagaimana jalan pikiran menaikkan produktivitas bukan dengan menaikkan
Added Value tetapi dengan mengeliminasi.
.
Added Value vs Non Added Value
Nilai Tambah atau
Added Value diciptakan dalam proses sehingga nilai output berbeda dari nilai input. Akan tetapi, dalam proses itu bukan hanya
Added Value yang diciptakan, tetapi juga
Non Added Value. Akibatnya
output adalah gabungan dari
Aded Value dan
Non Added Value. Fenomena
Japanese Management Practices, yang dipicu oleh penerapan
Pull System, berusaha untuk mengeliminasi
Non Added Value dalam proses sehingga output meningkat. Disamping itu, dalam konsep Pull System terkandung sebuah pesan untuk tidak mengirim
Non Added Value kepada konsumen. Taguchi menjelaskan konsep ini dengan baik dalam kurva
Loss Function-nya. Intinya, menghasilkan produk atau jasa sesuai dengan
target value
akan menghasilkan biaya terendah bagi konsumen , masyarakat maupun
produsen. Sebaliknya, bila produk atau jasa dihasilkan tidak sesuai
dengan
target value maka salah satu pihak pasti harus
menanggung kenaikan biayanya. Bisa produsen karena haru memproduksi
barang atau jasa dengan biaya tinggi yang sebenarnya tidak dikehendaki
konsumen, atau masyarakat/konsumen yang harus menderita karena harus
membeli barang atau jasa yang tidak sesuai dengan harapannya.
The new way of looking and the new way of thinking ini secara gradual memunculkan temuan-temuan baru baru di Gemba atau
shop floor atau tempat kerja. Akibat berantai dari perubahan
Push System ke
Pull System bisa di-identifikasi dari penurunan Biaya, penurunan Persediaan , dan perbaikan Kualitas.
Akibat lain yang muncul karena mandat pengeliminasian Muda adalah
U Layout.
Bukan hanya U Layout, tetapi juga konfigurasi tempat kerja baik produk
maupun jasa, tak ketinggalan disain alat, meja kantor yang curve, dsb
tidak lepas dari badai eliminasi Muda.
Disamping itu, usaha untuk tidak menghasilkan barang yang jelek telah menyemai penggunaan
Poka Yoke, yaitu
alat
hasil inovasi di Gemba untuk mengurangi kesalahan. Poka Yoke
bermacam-macam bentuk dan perannya. dari yang paling sederhana seperti
penggunaan warna dalam Visual Management, hingga sensor yang serba
otomatis dan terintegrasi.
Muda atau pemborosan bisa dikelompokkan menjadi:
- Pemborosan untuk menunggu
- Pemborosan dalam transportasi atau perjalanan
- Pemborosan memproduksi produk atau jasa yang tidak baik
- Pemborosan untuk menyimpan persediaan dalam jumlah banyak
- Pemborosan produksi dalam jumlah banyak yang tidak diperlukan
- Pemborosan dalam proses
- Pemborosan dalam beraktifitas yang tidak perlu
Pemborosan yang paling fatal adalah pemborosan karena tidak mengetahui adanya pemborosan.
Dalam perkembangannya,
Just In Time yang pada awalnya muncul
di Gemba, akhirnya menjadi sebuah kebenaran dalam manajemen ketika
fenomena persaingan dunia menunjukkan bahwa dalam banyak fakta yang
ditemukan oleh Russell,
American Manufacturing Industries kalah
dalam hal persaingan kualitas dengan Japanese Manufacturing
Industries. Disamping itu, fenomena yang diamati oleh Michael Kidron
dan Ronald Segal dalam
The State of World Atlas menunjukkan bagaimana superior perkembangan produktivitas setiap jengkal tanah di Jepang terhadap Amerika.
.
Pull System
Konsep
Pull System membawa perubahan makna yang revolusioner terhadap kata
customer
atau pelanggan. Dalam konsep Pull System, Pelanggan adalah next to us,
atau siapa saja yang membutuhkan jasa atau produk kita. Sekali lagi
siapa saja, jadi tidak harus mereka yang berada diluar orgabisasi.
Dengan demikian pendorong ide, kegiatan, dan penentu parameter produk
atau jasa seperti waktu, jumlah, disain, adalah pelanggan. Melakukan
segala sesuatu seperti yang dikehendaki oleh pelanggan adalah mandat.
Bila pelanggan mengehendaki hari ini dikirim telur bebek warna kuning 10
butir jangan dikirim besok warna kuning 10 butir atau hari warna hijau
ini 10 butir atau hari ini warna kuning 8 butir, atau kemarin warna
kuning 10 butir. Di pabrik Honda terpampang tulisan besar yang mudah
dibaca dan menjadi pengingat bagi siapa saja sehingga masuk di daerah
sub sadar:
- Jangan menerima produk cacad
- Jangan membuat produk cacad
- Jangan mengirim produk cacad
Jelas sekali bahwa tanggungjawab terhadap hasil atau output menjadi
tanggung-renteng bagi mereka yang terlibat didalam proses dimana setiap
orang bertanggungjawab terhadap hasil pekerjaannya. Dan, pelanggan itu
adalah
siapapun next to us, yang membutuhkan jasa atau produk kita. Hal yang di
Push System tidak terjadi. Dalam konsep
Pull System
ini jelas terlihat bagaimana manusia adalah tumpuan utama perbaikan;
tujuan dan sekaligus cara untuk menghasilkan produk atau jasa yang baik
sesuai dengan harapan pelanggan. Maka, Kyzen berarti
Continous Improvement Involving all organization members, sebenarnya adalah ruh bagi
Just In Time.
.
PEMAHAMAN YANG SALAH PADA KONSEP ZERO INVENTORY
Banyak yang memahami
Just In Time sebagai ZERO INVENTORY. Pemahaman ini sebenarnya sama sekali tidak salah, hanya kurang tepat.
Just In Time tidak mengenal
Zero Inventory, tetapi
few inventory.
Just In Time mengenal
Zero Defect. Bahkan ada yang dengan lantang mengatakan bahwa Just In Time adalah
Sure Unrealistic
termasuk kolega saya yang entah kulakan dari mana, atau bahkan kolega
lain lebih absurd yaitu bahwa dengan Just In Time maka EOQ tidak lagi
diperlukan. Waduuuh….
Kalau kita perhatikan model EOQ yang deterministik itu, maka konsep Just In Time sebenarnya sudah ada disana. Mari kita lihat dalam gambar berikut.
Q adalah Economic Order Quantity. Y adalah satu siklus pesanan. Persediaan sebesar Q pada t0 akan habis atau sebesar nol pada saat t2. Lead Time atau waktu datangnya pesanan sejak pesanan dibuat adalah L. Maka, saat memesan kembali atau re-order point adalah L atau t1-t2. Atau setelah persediaan tinggal sebesar R. Bila pesanan dibuat pada saat itu maka pada saat t2 yaitu ketika persediaan habis, pesanaan tepat datang. Just In Time bukan? Kondisi ini akan menyebabkan Total Inventory Cost= Holding Cost + Setup Cost menjadi minimum.
Namun,
Just In Time tidak murni demikian. Kalau EOQ menggabungkan P System dan Q System sehingga P dan Q selalu sama untuk setiap Y maka
Pull System yang memunculkan sistem Kanban yang artinya
card atau kartu hasil inovasi Taiichi Ohno setelah melihat swalayan di Amerika telah membuat
Setup Cost menjadi lebih rendah.
Karena
Set Up Cost lebih rendah maka kurva
Setup Cost bergeser ke kiri dan akibatnya Q optimal juga bergeser ke kiri atau lebih sedikit dan
Total Inventory Cost turun. Fenomena
Few Inventory dalam JIT terjadi seperti ini. Jadi, JIT tidak mengenal
Zero Inventory, tetapi
Few Inventory. Kata yang lebih mudah dihapahami mungkin : persediaan secukupnya.
Simulasi Excel berikut ini bisa digunakan untuk melihat bagaimana perubahan itu terjadi. Turunkan
Setup Cost maka fenomena
few inventory, bukan
zero inventory, itu akan terlihat. Kehadiran Mizusumashi dalam sistem Kanban yang dipandu oleh Andon, yaitu
visual management
untuk menandai kebutuhan persediaan pada setiap unit kerja dan membuat
persediaan selalu tersedia pada saat dibutuhkan. Sistem ini agak
berbeda dengan EOQ yang menggabungkan P System dan Q System sehingga
Periode tetap dan jumlah pesanan selalu tetap, dalam sistem Kanban
justru Periode selalu berubah demikian pula jumlah pesanan, sesuai
dengan kebutuhan. Jadi, sebenarnya, perbedaan mendasar antara sistem
Kanban dalam
Just In Time dengan EOQ adalah pada sistem
informasi yang menyebabkan P atau periode pesanan selalau sama dan Q
atau unit yang dipesan selalau sama sehingga
setup cost lebih rendah dan mengakibatkan Q bergeser ke kiri atau
few inventory. Download file
EOQ untuk melakukan siumulasi guna mengetahui bagaimana perubahan setup cost mempengaruhi Q optimal.
.
FENOMENA DAMPAK BERANTAI
Fenomena kemunculan
Pull System yang tampak dari gejala di
galangan kapal setelah perang dunia II dan inovasi Taiichi Ohno di
Toyota, sebenarnya menimbulkan dampak berantai yang sekaligus terjadi
pada :
- penurunan persediaan yang menyebabkan pertambahan ruang dan penghematan modal kerja.
- tepat waktu produksi yang menghilangkan berbagai pemborosan biaya seperti waktu menunggu, produksi terlalu banyak.
- tepat jumlah produksi yang menghilangkan pemborosan produksi yang tidak perlu, penghematan ruang persediaan.
- perubahan tata letak yang menyebabkan penghilangan pemborosan penggunaan ruang, transportasi, waktu.
- tepat kualitas atau sesuai dengan target value yang menyebabkan
pelanggan tidak harus menerima produk atau jasa yang sebenarnya tidak
diinginkan, atau produsen tidak perlu memproduksi yang sebenarnya tidak
digunakan oleh masyarakat.
Perubahan-perubahan itu secara simultan berantai bisa di-identifikasi menyebabkan:
- Penurunan Biaya
- Penurunan Persediaan
- Perbaikan kualitas
Hasil dari the new way of looking dan the new way of thinking
ini adalah laba yang semakin meningkat dan sebagai konsekuensi logis
akan memperbaiki return on investment ketika perubahan terus menerus itu
dilakakan bukan dengan menambah investasi secara signifikan. Literatur
baerat menami fenomena ini dengan Lean Manufacturing dan sudah banyak perusahaan-perusahaan besar mengarah kesana.